Category Archive for "Tauhid Dalam Alkitab"



Menanggapi Kristen & Tauhid Dalam Alkitab David Servetus on 15 Apr 2008

Paulus vs Murid Yesus

Paham Trinitas hanyalah salah satu paham yang berkembang di masyarakat pada abad-abad awal Masehi. Paham lain yang juga berkembang adalah paham Unitas (Tauhid) yang pada abad keempat dibela oleh Arius dan para pendukungnya. Lalu mengapa Kaisar Konstantin memilih Trinitas? Apakah karena Trinitas itu adalah kebenaran sejati? Melihat latar belakang Kaisar yang pagan, kami tidak heran jika kaisar lebih memilih Trinitas daripada Unitas.

Apakah Unitas baru lahir pada abad keempat? Pada abad keempat, diketahui adanya pertentangan antara pendukung Unitas dan para pendukung Gereja Pauline. Di jalan-jalan, orang ramai mempermasalahkan apakah anak sama dengan Bapa? Jika seseorang bertanya kepada pedagang di pasar berapakah harga barang ini? Dikatakan oleh pedagang, “Bukankah Bapa lebih besar dari anak?” Hal ini adalah kiasan atas betapa meluasnya perdebatan antara pendukung Trinitas dan Unitas saat itu.

Pertentangan ini sudah ada sejak awal berdirinya Gereja Pauline/Kristen. Bukankah Anda mengetahui adanya pertentangan antara Paulus dan 12 murid Yesus? Bahkan Paulus menentang pewaris da’wah Yesus, yaitu Petrus (Matius 16:18; Galatia 2:11). Bahkan Paulus menyebut Barnabas sebagai orang yg mengikuti kemunafikan Yahudi (Galatia 2:13). Paulus melakukan pembunuhan karakter terhadap para penentangnya dengan penilaian subyektif terhadap perbuatan para penentangnya. Mirip sekali dengan tukang gosip yang suka membicarakan orang lain berdasarkan penilaiannya semata atas perbuatan orang yang ia gunjingkan.

Pada saat itu, juga telah berkembang ajaran bahwa Yesus tidak menghapus hukum Taurat, bahkan menggenapkannya. Siapa yang membawa paham dan ajaran seperti ini yang jelas-jelas bertentangan dengan paham yang dibawa Paulus? Tentu saja para murid Yesus yang setia menemani dan mendukung da’wah Yesus. Mereka adalah para murid Yesus yang ditentang dan difitnah oleh Paulus sebagai munafik karena mereka mengajarkan bahwa Yesus tidak disalib, bahwa Yesus tidak menghapus Taurat.

Apakah hanya ada satu pengajaran di zaman itu? Apakah hanya ada satu doktrin di zaman itu? Nyatanya tidak. Saat itu juga telah berkembang paham bahwa Yesus tidak disalib. Telah berkembang pengajaran Yesus yang asli. Tetapi Paulus ingin merebut jemaat 12 murid Yesus dengan berkata: “Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu?” (Galatia 3:1)

Apakah Paulus menyaksikan Yesus disalib? Apakah Paulus pernah melihat wajah Yesus sebelum ia mengaku telah dipilih Yesus dalam penampakan? Paulus tidak punya pengetahuan yang dapat dipertanggung-jawabkan dalam hal ini. Pengetahuan Paulus atas penyaliban Yesus adalah pengetahuan yang meragukan, karena dia sebenarnya tidak menyaksikan penyaliban Yesus. Dia tidak benar-benar tahu apakah Yesus itu benar disalib atau tidak. Dia hanya mendengar kabar saja bahwa Yesus disalib. Tetapi dia tidak menghiraukan kabar lainnya bahwa Yesus tidak disalib. Siapakah pembawa kabar (injil) yang lain itu? Siapakah yang dituduh telah menipu orang Galatia dengan mengajarkan bahwa Yesus tidak disalib? Para murid Yesus. Para murid Yesus telah mengajarkan ajaran Yesus, yang tentunya berbeda dengan pekabaran yang dibawa Paulus si Farisi dari Tarsus.

Pekabaran siapa yang Anda pilih, wahai ahli kitab? Pekabaran para murid Yesus, ataukah pekabaran Paulus yang kemudian didukung oleh Kaisar pagan?

Tauhid Dalam Alkitab admin on 07 Apr 2008

ISLAMLAH ANDA

Islam berdasarkan bahasa berarti tunduk, patuh, berserah, menyerahkan diri, selamat, damai. Muslim, berarti orang yang Islam, orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah, orang yang tunduk patuh kepada Allah, orang yang ‘bertekuk-lutut’ di hadapan Allah.

Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah (Aslim)!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam (Aslamtu li Rabbil ‘alamin)”. [QS. Al-Baqarah: 131]

Dalam ayat di atas dapat kita lihat bahwa “Aslim!” dapat berarti “Tunduk patuhlah!”. Jika kata “Tunduk patuh” kita ganti dengan kata “Islam” maka kalimat itu menajdi “Islamlah!”.

Lalu Nabi Ibrahim menjawab: “Aslamtu li Rabbil ‘alamin.” Jika “Amantu” berarti “Aku beriman, aku percaya”, maka “Aslamtu” berarti “Aku berislam, aku tunduk patuh.” Dengan melihat makna kata Islam, kalimat di atas juga bisa diartikan “Aku menyerah kepada Tuhan semesta alam.”

Sungguh menakjubkan. Kata-kata seperti ini ternyata diucapkan orang yang dianggap sebagai Yesus oleh orang Kristen ketika dia disalib.

Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. [Lukas 23:46]

Yahudi di kala itu biasa menyebut Tuhan semesta alam dengan sebutan “Bapa”. Maka dalam bahasa Arab menjadi “Yaa Robb!”. Sedangkan “nyawa” sepertinya bukan terjemahan yang tertutup dari kata aslinya. Kita tentu ingat bahwa bahasa Arab dan Ibrani mempunyai akar yang sama. Dalam bahasa Arab “Nafsii” dapat berarti nyawaku, jiwaku, diriku, nafsuku. Maka dalam bahasa Arab, ayat itu bisa berbunyi, “Yaa Robb, aslamtu nafsii ilaa yadayKa.” Artinya, “Wahai Tuhan, aku menyerahkan diriku ke dalam tangan-Mu (Kekuasaan-Mu)” Ini sebuah ikrar ke-Islaman yang mirip dengan ikrar ke-Islaman Nabi Ibrahim ketika Allah menyuruh beliau untuk ber-Islam. Orang yang disalib itu jelas-jelas menyerahkan diri-Nya untuk tunduk patuh kepada kekuasaan dan peraturan Allah, kepada Diinullah, kepada agama Allah. Secara singkat, kalimat itu bisa menajdi “Yaa Rabb, aslamtu nafsii ilayKa. Wahai Tuhan, aku menyerahkan diriku kepada-Mu)” Maka dengan demikian, orang itu telah meng-Islamkan dirinya kepada Tuhan alam semesta. Setelah menunjukkan ke-Islamannya di hadapan orang ramai, orang yang dianggap sebagai ‘Isa itu pun pingsan.

Wa naadaa ‘Iisaa bishowtin ‘azhiim wa qaal: “Yaa Abaa, fii yadayka aslamtu nafsii!”

Maka jelaslah bahwa seorang Muslim adalah orang yang tunduk kepada Allah, patuh kepada Allah, berserah diri kepada Allah. Jika Anda, wahai ahli kitab, ingin berdamai dengan Allah, maka masuklah ke dalam Islam! Allah telah menyeru Nabi Ibrahim: “Aslim!” Maka Nabi Ibrahim menyambut seruan itu: “Aslamtu li Robbil ‘alamin.” Alangkah indahnya jika Anda juga menyambut seruan Allah kepada Anda dengan kalimat yang sama. Sungguh Allah telah menyeru kalian:

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah) (Isyhaduu bi annaa muslimuun)”. [QS. Ali Imran: 64]

‘Isa dan murid-muridnya telah menyeru orang-orang Yahudi yang ditangan mereka terdapat Taurat. Ketika mereka tidak mau tunduk kepada Allah yang esa, maka wajarlah jika beliau dan murid-muridnya berkata: “Isyhaduu bi annaa muslimuun!” untuk menunjukkan kepada para ahli kitab bahwa ‘Isa dan murid-muridnya adalah muslim dan berlepas diri dari ajaran bathil Farisi dan Saduki.

Begitu juga kami telah mengajak kalian, wahai yang ditangannya terdapat Alkitab, agar Anda masuk ke dalam Islam dan tunduk-patuh kepada Allah yang esa. Jika Anda menolaknya, saksikanlah oleh kalian bahwa kami adalah Muslim dan kami berlepas diri dari ajaran bathil yang kalian serukan!

Diriwayatkan dari Abu Dzar ra katanya: Nabi SAW bersabda: “Jibril as telah mendatangi aku lalu memberitahu berita gembira, yaitu siapa yang mati di kalangan umatku dalam keadaan tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu, niscaya dia akan dimasukkan ke dalam Syurga.” [HR. Bukhori, Muslim, At-Tarmidzi, Ahmad bin Hanbal]

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra katanya: Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu niscaya akan memasuki Neraka.” [HR. Bukhori, Muslim, Ahmad]

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra katanya: Ketika Mu’adz bin Jabal mengikuti unta Rasulullah SAW dalam satu perjalanan, Rasulullah SAW memanggil: “Wahai Mu’adz!” Mu’adz menyahut: “Labbayk yaa Rasulallah! (Telah kuterima panggilanmu itu wahai Rasulullah.)” Rasulullah s.a.w memanggil lagi: “Wahai Mu’adz!” Mu’adz menyahut lagi: “Labbayk yaa Rasulallah!” Rasulullah SAW memanggil: “Wahai Mu’adz!” Mu’adz menyahut lagi: “Labbayk yaa Rasulallah!” Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang mengucap Dua Kalimah Syahadat yaitu: laa ilaaha illallaah, wa anna Muhammadan ‘abduHuu wa RasuuluH, niscaya terselamatlah dia dari api Neraka.” Kemudian Mu’adz berkata: “Bolehkah aku memberitahu perkara ini kepada orang ramai agar mereka sebarkan berita gembira ini?” Rasulullah SAW bersabda: “Kalau begitu, lakukanlah dan berserahlah kepada Allah!” [HR. Bukhori, Muslim, Ahmad]

Kalimat di atas adalah kalimat keniscayaan, kepastian, bukan kalimat keraguan. Tidak ada keraguan di dalamnya. Ucapkanlah dua kalimah syahadah, maka bagi Anda surga.

Akhir Zaman & Aqidah & Download & Menanggapi Kristen & Tauhid Dalam Alkitab & Yesus Dalam Kitab admin on 03 Jan 2008

Abdullah vs Abdul Masih

Dari Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sebentar lagi akan datang Ibnu Maryam sebagai pemimpin yang adil, akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan meletakkan aturan jizyah, dan akan menyebarkan uang sehingga tidak ada satu pun yang mau menerimanya lag, sehingga satu kali sujud kepada Allah SWT itu lebih berharga dari dunia dan apa-apa yang ada di dalamnya.” (HR. Bukhori, Muslim, Turmudzi, dan Ahmad)

Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. [QS. An-Nisa (4): 159]

Hal yang dijanjikan itu tidak lama lagi akan terjadi. Maka bertaubatlah wahai Ahlul Kitab!

Yesus Dalam Al-Qur`an (Jawaban untuk Abdul Masih)
Keruntuhan Doktrin Kristen Trinitarian
Menanggapi Doktrin Trinitarian

Menanggapi Kristen & Tauhid Dalam Alkitab admin on 23 Dec 2007

Dan Yesus Pun Bersujud

(Isa berkata:) “Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”. [QS. Ali Imran: 51]

Maka ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, katanya: “Ya Bapaku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaku, tetapi janganlah seperti yang kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” [Matius 26:39]

Dalam sejarah agama di seluruh dunia, mungkin hanya Kristen saja yang mencatat bahwa Tuhannya bersujud dan berdoa kepada Tuhan. Kita tentu maklum bahwa Tuhan adalah Substansi Yang Mahakuasa. Tuhan tidak membutuhkan substansi lain untuk mewujudkan kehendak-Nya. Penyembahan kepada Tuhan dengan cara bersujud dan berdoa hanya menunjukkan kefaqiran hamba/makhluq kepada Tuhan/Pencipta dan ketidak-mampuannya dalam mewujudkan keinginannya tanpa kekuasaan dari Tuhan.

Dari sini, setiap manusia yang beraqal budi dan berhati jernih harusnya sadar bahwa Yesus hanyalah makhluq/hamba yang lemah dan membutuhkan Tuhan untuk menolongnya. Hanya saja, awan kegelapan telah menghalangi aqal dan hati mereka dari kebenaran yang sangat terang ini. Dogma-dogma sinting telah membuat mereka melakukan hal terbodoh di dunia. Adakah hal yang lebih bodoh daripada menyembah makhluq?

Tidak hanya itu, sementara sang tuhan menyembah Tuhannya dengan cara bersujud, sang hamba malah menyembah sang tuhan dengan duduk di kursi atau berdiri sambil bernyanyi. Apakah Perjanjian Baru telah mendongengkan bahwa Yesus bernyanyi di tempat ibadah untuk menyembah Tuhannya?

Berhentilah menyembah Yesus. Mulailah mengesakan Tuhan yang haqiqi. Itulah yang dia inginkan. Kami ummat Islam telah mengesakan Tuhan yang disembah Isa. Tuhan kami dan Tuhan yang disembah Isa adalah Tuhan yang esa. Kami bersujud kepada Tuhan yang disembah Isa. Inilah hidup yang kekal. Inilah jalan yang lurus.

Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Yahuwa adalah Ilah kita, Yahuwa itu esa.” [Markus 12: 29]

Kata Yesus kepadanya: “Janganlah engkau memegang aku, sebab aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudaraku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang aku akan pergi kepada Bapaku dan Bapamu, kepada Ilahku dan Ilahmu.” [Yohanes 20:17]

Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. [Yohanes 17:3]

Tauhid Dalam Alkitab admin on 07 Aug 2007

YOHANES 5:58 (PRE-EKSISTENSI)

Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” [Yohanes 8:58]
Ummat Kristen menggunakan ayat ini untuk menunjukkan pre-eksistensi Yesus. Dan ketika Yesus berkata ‘Ego Eimi’ (Aku ini, akulah dia, I am, I am he), ummat Kristen yakin bahwa Yesus adalah Tuhan.
Sebenarnya banyak gaya bahasa Israel yang harus kita fahami sebelum kita bisa memahami Alkitab dengan baik. Salah satunya adalah kata ini yang dalam bahasa Yunaninya adalah ‘Ego Eimi’. Dengan berkata ‘Ego Eimi’ tidak membuat seseorang menjadi Tuhan. Banyak orang menggunakan ungkapan seperti itu dalam kebudayaan Israel. Ada lebih dari seratus ayat dalam Alkitab yang memuat ungkapan seperti ini, antara lain 2 Sam. 7:18; 2Taw. 2:6; Mzm 88:14, 119:125; Yer. 26: 14; Gal. 5:11; Ef. 3:1; Kol. 1:23.
Itulah sebabnya aku ini, Paulus, orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus untuk kamu orang-orang yang tidak mengenal Allah. [Efesus 3:1]
Begitulah gaya bahasa orang Israel, dan Allah pun menggunakan gaya bahasa ini dalam firman-Nya kepada bangsa Israel. Gaya bahasa seperti ini juga digunakan oleh bangsa Arab. Bahkan Allah menggunakan gaya bahasa ini di dalam Al-Qur`an ketika menceritakan dialog suci antara Dia dengan Musa.

Sesungguhnya Aku ini, Akulah Allah, tidak ada Ilah yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku. [QS. Tha Ha (20): 14]
Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku ini tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah. [QS. Az-Zukhruf: 26]
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku ini termasuk orang-orang yang berserah diri.” [QS. Fushshilat: 33]
Sesungguhnya aku ini, diutus bagimu dari-Nya sebagai pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira. [QS. Hud:2]
Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik”. [QS. Al-An’am: 161]

Adapun perkataan bahwa sebelum Abraham lahir, Yesus telah ada, ini tidak bisa dijadikan dalil pre-eksistensi Yesus. Sebab pada faktanya Yesus, secara fisik, ada setelah Abraham. Dan Yesus berbicara seperti ini ketika ia berumur tigapuluhan tahun (Yohanes 8:57), sedangkan Abraham telah tiada sebelum dia lahir. Maka dalam konteks ayat ini, jelaslah bahwa eksistensi Yesus adalah dalam Ilmu Allah. Yaitu dia telah ada dalam rencana Tuhan, bukan eksis secara harfiah. Jika kita lihat ayat 56, maka kita akan faham bahwa Yesus ‘telah ada’ dalam rencana Tuhan.

Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita. [Yoh. 8:56]

Bagaimana Abraham telah melihat hari ketika Yesus menyampaikan firman Tuhan dan membimbing Israel ke jalan lurus, sedangkan pada saat itu Yesus belum tampil untuk menyampaikan firman Tuhan? Abraham melihatnya dalam ‘penampakan’. Tuhan telah ‘memperlihatkan’ atau mungkin sekedar memberi kabar tentang peristiwa itu. Adalah umum ketika seseorang membaca buku sejarah, kemudian dia berkata, “Saya melihat dalam paragrap ini bahwa Yesus menjalankan tugasnya sebagai utusan Tuhan.” Apakah dia melihat Yesus dengan mata-kepalanya? Tentu tidak. Ibrani 11:7,10:
“Karena iman, maka Nuh –dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan– dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; …Sebab ia (Abraham) menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.”
Dengan apa Nuh dan Abraham melihat sesuatu yang ada di masa yang akan datang? Dengan iman. Dan Yesus adalah rencana Allah untuk menyelamatkan Israel. Tentu saja Abraham gembira ketika ‘melihat’ hal ini.
TUHAN berkata kepadaku: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” [Yeremia 1:4-5]
Apakah Yeremia telah eksis dari dahulu kala? Ya, tetapi dalam rencana Allah, bukan sebagai manusia.
TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala. Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada. [Amsal 8:22-23]
Salomo (Sulaiman) bin Daud dibentuk pada zaman purbakala, bahkan dikatakan bahwa TUHAN telah menciptakannya. Akan tetapi di dalam rencana TUHAN.

Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian! … Tentu engkau mengenalnya, karena ketika itu engkau telah lahir, dan jumlah hari-harimu telah banyak! [Ayub 38:4,21]
Apakah Ayub telah eksis sebelum bumi diciptakan? Ya, Ayub telah eksis dalam rencana TUHAN.
Maka ayat-ayt seperti ini tidak bisa digunakan sebagai dalil pre-eksistensi Yesus. Yesus bukanlah Al-Awwal. Yesus bukan Al-Qadim (Yang Terdahulu).

(Sumber: Biblicalunitarian.com)

Tauhid Dalam Alkitab admin on 07 Aug 2007

ASH-SHIRATH AL-MUSTAQIM

Bagaimanakah Ash-Shirathal Mustaqim (jalan lurus) dalam pandangan Muslim dan Kristian? Bagaimanakah pandangan Al-Qur`an dan Alkitab terhadap jalan lurus? Kami akan coba untuk membahasnya secara singkat dengan mengemukakan ayat dari kedua kitab tersebut, dengan izin ALLAH.

JALAN LURUS DALAM ISLAM

Tunjukilah kami jalan yang lurus. (QS. Al-Fatihah: 6)

Muslim tidak pernah menganggap ‘jalan yang lurus’ atau ‘jalan lurus’ sebagai Tuhan. Karena Tuhan bukanlah jalan, Tuhan adalah tujuan. Ketika seorang muslim meminta kepada ALLAH agar ditunjuki jalan yang lurus, mereka sedang meminta agar ditunjuki kepada jalan yang menyampaikan mereka kepada ALLAH. Jalan Tuhan adalah suatu jalan yang harus ditempuh bagi mereka yang ingin bertemu dengan ALLAH. Lalu apakah ‘jalan lurus’ atau ‘jalan Tuhan’ itu? Jalan lurus yang harus ditempuh orang-orang yang ingin bertemu dengan ALLAH adalah mengesakan ALLAH dan menyembah-Nya dengan ikhlash.

(Isa adalah utusan kepada bani Israil yang berkata:) “Sesungguhnya ALLAH, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran: 51)

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahfi: 110)

JALAN LURUS DALAM KRISTEN

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)

Kristian yang sudah terbius akan ‘keilahian’ Yesus, beranggapan bahwa pada ayat itu Yesus menunjukkan bahwa dirinya adalah jalan, dan dirinya adalah Tuhan. Padahal Tuhan tidak pernah menyebut dirinya sebagai jalan, karena Tuhan bukanlah jalan, melainkan tujuan. Sedangkan Yesus hanyalah mengajak manusia kepada jalan Tuhan, jalan yang harus ditempuh oleh semua orang yang ingin bertemu Tuhan. Bahkan Yesus dan para nabi harus melalui jalan tersebut jika mereka ingin bertemu dengan Tuhan, jalan itu adalah mengakui bahwa tidak ada yang berhaq disembah kecuali ALLAH, dan mengikuti jalan yang ditempuh oleh para nabi. Ummat Nuh harus mengikuti jalan yang ditempuh Nuh, ummat Musa harus mengikuti syariat yang dibawa oleh Musa, ummat Isa harus mengikuti jalan yang ditempuh oleh Isa, dan ummat Muhammad Rasulullah saaw harus mengikuti syariat yang dibawa oleh Muhammad Rasulullah saaw yang mana syariat itu beliau bawa dari Tuhannya. Oleh sebab itu ummat Nabi Muhammad harus mengakui bahwa tidak ada yang berhaq disembah kecuali ALLAH dan mengakui bahwa Muhammad adalah Rasul ALLAH. Begitu juga ummat Nabi Isa as, mereka harus mengakui keesaan ALLAH dan mengakui Isa sebagai orang yang diutus oleh ALLAH.

Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yohanes 17:3)

Yesus bukanlah Tuhan, karena Yesus bukanlah tujuan. Tujuan kita adalah ALLAH. Yesus hanyalah utusan ALLAH yang mengajak kepada bani Israil agar mengakui ALLAH sebagai Ilah mereka. Sedangkan Nabi Muhammad saaw diutus bukan hanya untuk bangsa Arab, bukan hanya untuk bangsa Israil, tetapi untuk semua ummat manusia. Nabi Muhammad saaw diutus untuk mengajak manusia agar mengakui ALLAH sebagai satu-satunya Ilah yang benar.

SEMBAHLAH DIA

Aku mengajak kepada kalian semua agar kembali kepada jalan yang lurus, jalan yang diridhoi oleh ALLAH. Sebagaimana yang diserukan Isa kepada kaumnya, sebagaimana yang diserukan para nabi kepada kaumnya, sebagaimana yang diserukan Muhamamd Rasulullah saaw kepada seluruh ummat manusia, aku menyeru kepada kalian, ‘Sesungguhnya ALLAH, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus’.

ALLAH, Dialah yang menciptakan aku dan kalian, yang harus aku sembah dan yang harus kalian sembah. ALLAH, Dialah Tuhanku dan Tuhan kalian, maka sembahlah Dia, Ilah yang esa.

Kata Yesus kepadanya: “…Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” (Yohanes 20:17)
Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.” (Markus 12:29)

Yesus menyebut Tuhan sebagai ‘Ilah kita’, Ilahnya dan Ilah bani Israil. Yesus menyebut Tuhan sebagai Ilahnya, sebagai sesembahannya. Bahkan Yesus menyembah Tuhan. Tuhankah dia yang menyembah Tuhan? Tuhankah dia yang mengaku sebagai jalan menuju Tuhan? Pahamilah! Tuhan adalah tujuan, Tuhan bukanlah jalan. Tuhan adalah ALLAH, maka sembahlah Dia. ALLAH adalah Ilah yang benar, Ilah yang haq. Dialah ALLAH yang esa. HUWA ALLAHU AHAD!

Tauhid Dalam Alkitab admin on 23 Feb 2007

ISLAM MENENTANG TRINITAS

Berbeda dengan agama pagan, Islam menentang paham trinitas. Hal ini dapat terlihat dalam ayat-ayat berikut:

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putra Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?” Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [QS. Al-Maidah: 17]

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu, berhentilah menganut ajaran trinitas). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara. [QS. An-Nisa: 171]

Muslim tidak menyembah tuhan yang dilahirkan oleh seorang perawan pada tanggal 25 Desember, kemudian disalib, kemudian mati, kemudian bangkit kembali. Tuhan yang disembah oleh Muslim adalah Tuhan Yang Mahaesa, tidak beranak atau pun diperanakkan, tidak mati, dan dunia tidak sanggup untuk menampung-Nya. Konsep ketuhanan seperti ini dapat terlihat dalam ayat-ayat berikut ini:

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”. [QS. Al-Ikhlash]

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. [QS. Al-A’taf: 143]

Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya, [QS. Al-Furqan: 58]

Bahkam Alkitab juga menghendaki konsep ketuhanan yang seperti ini. Tetapi, entah mengapa, sebagian besar pemegang Alkitab malah menganut paham Trinitas.

Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. [Markus 12:29]

Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah (bait) yang kudirikan ini. [I Raja-raja 8:27]

Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. [Roma 1:23]

Lihatlah, bagaimana Alkitab juga tidak menghendaki paham Trinitas. Tetapi mereka telah menggantikan paham Tauhid dengan param Trinitas seperti kaum yang ingkar di masa lalu. Mereka lebih menyukai paham kebendaan (materialisme). Mereka tidak suka Tuhan Yang Ghaib, mereka lebih suka menyembah manusia, patung, binatang, dan sebagainya.

Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zhalim. [QS. Al-Baqarah: 92]

Lihat juga:

http://www.wilsonsalmanac.com/jesus_similar.html
http://hotarticle.org/saint-peter-square-kuil-matahari/ 
http://hotarticle.org/yahudi-dan-iblis/

Tauhid Dalam Alkitab admin on 24 Jan 2007

PEKERJA DI KEBUN ANGGUR

Bagaimanakah perumpamaan ummat Nabi Muhammad dalam Alkitab dalam hal kedudukan mereka di sisi Allah? Ummat siapakah yang paling dicintai Allah?

Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah saaw bersabda, “Jarak masa tinggal kamu dibandingkan dengan ummat sebelumnya, yaitu seperti jarak antara shalat Ashar sampai matahari terbenam. Pengikut Taurat diberikan kitab Taurat (di pagi hari) lalu mereka mengamalkannya hingga menjelang siang hari, lalu mereka diberikan masing-masing satu qirath. Kemudian pengikut Injil diberi kitab Injil (di siang hari) lalu mereka amalkan hingga menjelang waktu Ashar, lalu mereka diberi masing-masing satu qirath. Kemudian kita diberi Al-Qur`an, lalu diamalkan hingga matahari terbenam, lalu kita diberi masing-masing dua qirath. Kemudian ahli kitab (Yahudi dan Nashoro) berkata, “Wahai Tuhan kami, Engkau berikan mereka masing-masing dua qirath, dan Engkau berikan kami masing-masing satu qirath, sedangkan kami paling banyak amal kebajikan?” Lalu Allah ‘Azza wa Jalla berkata, “Apakah Aku telah berbuat zhalim kepada kalian (dengan mengurangi ganjaran kalian)?” Mereka berkata, “Tidak”, lalu Allah berkata, “Yang demikian itu adalah karunia-Ku yang Kuberikan kepada orang yang Aku kehendaki.” (HR. Bukhori) Dalam riwayat yang lain diberitakan bahwa Rasulullah saaw bersabda:
Masa menetap kalian dibanding dengan ummat-ummat sebelum kalian adalah sebagaimana jarak antara shalat Ashar hingga terbenam matahari. Perumpamaan antara kalian dengan Yahudi dan Nasrani adalah seperti seorang laki-laki yang menyewa beberapa pelayan. Lalu ia berkata, “Barangsiapa yang bekerja dari pagi hingga pertengahan siang, maka baginya satu qirath.” Lalu bekerjalah seseorang, dan itulah kaum Yahudi. Kemudian dia berkata lagi, “Barangsiapa yang bekerja dari siang hingga waktu Ashar, maka baginya satu qirath.” Lalu bekerjalah seseorang, itulah kaum Nasrani. Kemudian tuan itu berkata lagi, “Barangsiapa yang bekerja dari Ashar hingga terbenam matahari, maka baginya dua qirath.” Maka bekerjalah seseorang, itulah kalian. Lalu pekerja pertama dan kedua berkata, “Mengapa kami lebih banyak bekerja, tetapi lebih sedikit ganjarannya?” Lalu tuan itu berkata, “Apakah aku menzhalimi haq kalian (dengan mengurangi upah yang aku janjikan kepada kalian)?” Mereka berkata, “Tidak” Lalu tuan itu berkata, “Yang demikian itu adalah karuniaku yang aku berikan kepada orang yang aku kehendaki.”

Hadits di atas menunjukkan kepada kita bahwa walaupun umur kita lebih pendek dari umur ummat-ummat terdahulu, tetapi kita bisa mendahului mereka dalam perlombaan mengumpulkan pahala dari Allah. Karena setiap ibadah yang diamalkan ummat Muhammad Rasulullah saaw akan dilipat-gandakan. Satu kebaikan digandakan hingga 10 kali lipat, 27 kali lipat, 70 kali lipat, 700 kali lipat, atau lebih daripada itu sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah. Bahkan dalam setiap tahun, kita mendapatkan malam lailatul qadar, di mana barangsiapa beribadah pada malam itu, maka pahalanya seperti orang yang beribadah selama seribu bulan siang dan malamnya. Padahal menurut injil Barnabas, malam tersebut hanya ada setiap seratus tahun bagi ummat-ummat terdahulu. Sedangkan bagi kita ummat Nabi Muhammad saaw, malam lailatul qadar ada setiap tahunnya. Jika kita mendapatkannya selama 20 kali saja, maka sungguh kita telah mendahului ummat-ummat sebelum kita. Bahkan dengan pelipat-gandaan bagi amal-amal kita setiap harinya saja, kita sudah bisa mengungguli ummat-ummat terdahulu. Apalagi jika kita bisa mendapatkan malam lailatul qadar tiap tahunnya. Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir. Itulah karunia Allah bagi ummat Muhammad Rasulullah saaw Sang Hamba Pilihan, Muhammad Al-Musthafa.
MATIUS

20:1 “Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.
20:2 Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.
20:3 Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.
20:4 Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka pun pergi.
20:5 Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.
20:6 Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?
20:7 Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.
20:8 Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.
20:9 Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.
20:10 Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga.
20:11 Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,
20:12 katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.
20:13 Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?
20:14 Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.
20:15 Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?
20:16 Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.”

Tauhid Dalam Alkitab admin on 24 Jan 2007

TURUNNYA ISA MENJELANG KIAMAT

Bagaimanakah Islam dan Alkitab memandang kedatangan Isa ke bumi untuk kedua kalinya?

Dari Abu Umamah Al-Bahili ra, Rasulullah saaw bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat hingga …. Isa menjadi hakim yang adil bagi ummatku, ia menghancurkan salib, membunuh babi, berperang, membiarkan shadaqah sehingga tak seorang pun yang mencari kambing atau unta, rasa dendam dan benci diangkat, permusuhan dicabut dari jiwa manusia, seorang anak kecil memasukkan tangannya ke sarang ular, tetapi tidak membahayakannya, anak kecil menunggang singa, tetapi tidak membahayakannya, serigala berada di tengah-tengah kambing seolah-olah ia menjadi anjing penggembalanya, dan bumi dipenuhi perdamaian seperti wadah yang penuh dengan air, kalimat menjadi satu (semua orang memeluk ajaran tauhid), tidak ada yang disembah selain Allah, perang telah usai, dan kaum Quraisy mengambil hartanya sehingga permukaan bumi seperti permadani perak, pepohonannya tumbuh sesuai dengan janji Adam (bumi kembali subur, bahkan Tanah Arab menjadi hijau), Oleh karena itu, manusia berkumpul pada tandan anggur yang mengenyangkan mereka dan berkumpul pada delima hingga mengenyangkan mereka juga. Sapi jantan (harganya) seperti ini dan itu, sedangkan kuda hanya dengan beberapa dirham.” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa kuda menjadi murah?” Beliau saaw menjawab, “Karena tidak dipakai untuk berperang selamanya.” Beliau ditanya lagi, “Mengapa sapi jantan menajdi mahal?” Beliau menjawab, “Karena dipakai untuk mengelola seluruh lahan bumi.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud, dan Hakim)

Hadits di atas sesuai dengan Kitab Yesaya pasal 11. Hal ini menunjukkan bahwa berita yang dibawa Nabi Muhammad saaw memang berita yang telah dibawa oleh nabi-nabi terdahulu. Ajaran beliau adalah ajaran tauhid. Sedangkan orang-orang Kristen telah mencemarkan tauhid yang diajarkan nabi-nabi terdahulu dan juga yang dibawa Isa as, mereka mencemarinya dengan ajaran Trinitas yang dianut orang-orang pagan.

YESAYA

11:1 Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah.

11:2 Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN;

11:3 ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang.

11:4 Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik. (Dalam suatu hadits dijelaskan bahwa kelak nafas Nabi Isa itu begitu wangi. Jika yang mencium nafasnya itu adalah orang kafir dan fasik, maka orang itu akan mati)

11:5 Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang.

11:6 Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya.

11:7 Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu.

11:8 Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak.

11:9 Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya.

11:10 Maka pada waktu itu taruk dari pangkal Isai akan berdiri sebagai panji-panji bagi bangsa-bangsa; dia akan dicari oleh suku-suku bangsa dan tempat kediamannya akan menjadi mulia.

Tauhid Dalam Alkitab toocool on 29 Oct 2006

YUDAS 1:25

Kepada satu-satunya Allah yang bijaksana, Juruselamat kami, jadilah kemuliaan dan keagungan, kekuatan dan kekuasaan, sekarang dan selama-lamanya. Amin. [Yudas 1:25 KJV]
Allah itu esa, Allah itulah Juruselamat. Di dalam versi lain dijelaskan bahwa Allah menyelamatkan manusia melalui perantaraan Yesus. Maksudnya Allah menyelamatkan manusia dengan mengutus Yesus, agar Yesus menyampaikan firman Tuhan dan mengajarkan mereka tentang jalan lurus, yaitu hanya menyembah Allah yang esa, dan agar membimbing mereka berjalan di atas jalan lurus itu, sebagaimana Musa telah membimbing bangsa Israel keluar dari Mesir melalui satu jalan lurus di tengah lautan sehingga mereka pun selamat dari kejaran pasukan Iblis. Jadi, Jalan Lurus atau Hidup Kekal itu adalah mengesakan Allah.

Sungguh, Engkau Allah yang menyembunyikan diri, Allah Israel, Juruselamat. [Yesaya 45:15]

Aku ini, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku. [Yesaya 43:11]

Sesungguhnya Aku ini, Akulah Allah, tidak ada ilah (yang benar) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku. [QS. Tha Ha: 14]

Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. [Yohanes 17:3]

(Isa, rasul kepada bani Israel yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”. [QS. Ali Imran: 51]

Next Page »