Perbanyak Dzikir Nanti Malam
By: David Servetus in Uncategorized
Bagi Anda yang tidak bisa hadhir di majelis dzikir nanti malam, silahkan perbanyak dzikir di rumah atau di tempat tugas. Karena tujuan kita malam ini bukanlah merayakan malam tahun baru dengan cara berdzikir. Sama sekali tidak.
Tujuan atau niat kita malam ini adalah untuk meredam gejolak alam dan mengharap kasih-sayang Allah atas ummat manusia. Karena malam ini akan tampak milyaran orang yang merayakan suatu adat kebiasaan orang-orang yang berkata bahwa Allah mempunyai putera. Nabi bersabda, “Barangsiapa meniru adat suatu golongan, maka ia termasuk golongan itu.” Lalu di manakah golongan Muhammad Rasulullah malam ini jika kita juga ikut-ikutan merayakan malam tahun baru mereka (walau dengan cara berdzikir)?
Sekali lagi, kita tidak merayakan malam tahun baru mereka, dengan cara apa pun. Kita hanya berusaha meredam gejolak alam yang geram dengan adat kebiasaan orang-orang yang mengatakan bahwa Allah mempunyai putera dan geram kepada mereka yang tasyabbuh, meniru-niru kebiasaan tersebut.
Jika kiamat bisa diundur 40 tahun dengan adanya satu orang yang menyeru, “Allah… Allah,” bagaimana lagi dengan seruan kita kepada-Nya, sedangkan Dia Mahamendengar? Dan Allah menyukai segala amal kebaikan yang dikerjakan secara berjama’ah. Walau kita tidak berada di satu tempat yang sama, tetapi kita berada di bumi yang sama. Allah menyatukan hati kita dalam kecintaan kepada-Nya. Ketika mereka berjama’ah dalam kemungkaran, kita berjama’ah dalam kepatuhan. Semoga kasih-sayang Allah tercurah kepada kita. Sungguh kasih-sayang Allah mengalahkan murka-Nya.

Semalam aku [abu zahrah] bersembang di warung kopi dengan seorang kenalan yang aku kenali dari sebuah forum di internet. Kebetulan beliau tinggal berhampiran dengan rumahku. Dalam perbualan tersebut beliau meminta aku untuk menulis mengenai seorang ulama yang bernama Sayyid Ahmad Zaini Dahlan [gambar sebelah]. Katanya beliau mengetahui nama ulama ini melalui penulisan yang dibaca sahaja, terutama apabila menyentuh pertembungan antara kaum Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan Wahabi, tetapi tidak mengenali siapakah sebenarnya ulama ini. Aku sekadar mendiamkan diri, tak berani janji takut tidak terkotakan. Maka bila kembali kerumah aku cuba mencari bahan mengenai ulama tersohor ini, demi untuk tidak menghampakan kenalan baruku itu. Tulisan ini sebagai hadiah untuk beliau walaupun agak sukar bagiku. Namun aku bersyukur sahabatku 










